PKB Gresik Gelar Konsolidasi Calon Pengurus 2026–2031, Pentingkan Kerja Kolektif Partai

Berita

GRESIK – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Gresik menggelar sarasehan dan silaturahmi calon pengurus definitif periode 2026–2031, Minggu (28/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari konsolidasi internal partai dalam mematangkan struktur kepengurusan baru sekaligus menyamakan arah gerak organisasi ke depan.

Agenda tersebut dihadiri jajaran calon pengurus Dewan Tanfidz, mulai dari ketua, sekretaris, bendahara, para wakil ketua, wakil sekretaris, wakil bendahara, serta calon Ketua dan Sekretaris Dewan Syuro beserta anggota Dewan Syuro. Selain itu, turut hadir pengurus anak cabang (PAC) PKB se-Kabupaten Gresik.

Calon Ketua DPC PKB Gresik periode 2026–2031, Muhammad Syahrul Munir, menegaskan kepengurusan mendatang akan fokus memperkuat politik kehadiran hingga tingkat PAC, ranting, dan masyarakat.

“Insyaallah komitmen kami sebagai pengurus DPC PKB adalah memasifkan politik kehadiran ke PAC, masyarakat, dan ranting. Kami ingin PKB benar-benar hadir di tengah masyarakat, bukan hanya menjelang pemilu,” ujar Syahrul.

Ia juga menekankan pentingnya kerja kolektif dalam struktur kepengurusan. Menurutnya, jabatan Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) bukan tujuan utama dalam berorganisasi.

“KSB itu jabatannya hanya tiga. Kami berharap itu tidak menjadi tujuan utama berpartai. Semua kader memiliki fungsi masing-masing. Wakil ketua punya pembidangan, ada organisasi, kehumasan, dan lainnya,” ujar Syahrul.

Syahrul menambahkan, penguatan komunikasi internal menjadi kunci dalam menjaga soliditas partai sekaligus meningkatkan perolehan suara pada pemilu mendatang.

“Kunci mempertahankan kemenangan dan meningkatkan suara maupun kursi PKB adalah komunikasi, politik kehadiran, dan kebersamaan,” terang politikus muda yang juga Ketua DPRD Gresik ini.

Sementara itu, calon Ketua Dewan Syuro PKB Gresik, KH Chusnan Ali, mengajak seluruh kader menjadikan silaturahmi sebagai bagian dari penguatan organisasi.

“Silaturahmi malam ini bukan sekadar bertemu. Dari silaturahmi lahir silatul fikrah atau sambung gagasan, kemudian kita olah menjadi silatul jihad, yakni gerakan perkhidmatan untuk umat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi politik yang menjangkau tokoh masyarakat, termasuk kiai kampung dan guru ngaji.

“Komunikasi harus menembus batas-batas eksternal, tidak hanya di struktural internal,” ujar KH Chusnan Ali.

Dalam kesempatan itu, KH Chusnan juga menyinggung pentingnya kemampuan adaptasi dalam dinamika politik.

Menutup arahannya, ia menegaskan bahwa perjuangan politik harus dilakukan secara konstitusional dan terukur untuk menghadirkan kemaslahatan masyarakat

Share this

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *